Soul

Pilihan Aktivitas yang Bisa Dilakukan untuk Kurangi Screen Time Anak

Jakarta (KABARIN) -

Pembatasan akses anak terhadap platform digital tidak cukup hanya dengan aturan. Orang tua juga perlu menyediakan aktivitas menarik di dunia nyata agar anak tidak terus terpaku pada layar gawai.

Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., Psikolog, menekankan bahwa orang tua perlu lebih kreatif dalam menciptakan kegiatan alternatif yang bisa menyaingi daya tarik konten digital.

"Orang tua harus bekerja keras dan kreatif membuat program lain yang menyaingi apa yang biasa anak tonton di digital," katanya kepada ANTARA pada Jumat.

Menurut Prof. Rose, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah membuat proyek kreatif bersama anak di rumah. Kegiatan ini bisa berupa membuat kerajinan tangan, menyusun cerita, hingga mengeksplorasi topik yang memang diminati anak.

"Kita bikin proyek bersama. Itu membuat anak tertantang tanpa harus bergantung pada gadget," katanya.

Selain kegiatan kreatif, aktivitas fisik juga menjadi pilihan yang baik, terutama bagi anak-anak usia sekolah dasar yang sedang aktif bergerak. Orang tua bisa mengajak anak bermain sepak bola, bola basket, atau olahraga lain yang mereka sukai.

Prof. Rose mengatakan kegiatan bersama seperti ini tidak hanya membantu mengurangi waktu anak menggunakan gawai, tetapi juga dapat mempererat hubungan antara orang tua dan anak.

"Mungkin dengan olahraga bersama, hubungan jadi lebih lekat. Daripada di rumah tapi tidak ada komunikasi," katanya.

Ia juga menilai kebijakan pemerintah yang membatasi akses anak di bawah usia 16 tahun terhadap platform digital berisiko tinggi dapat membantu orang tua mengurangi waktu anak menggunakan perangkat elektronik.

Meski begitu, menurutnya aturan tersebut tetap membutuhkan keterlibatan aktif dari orang tua dalam mendampingi dan mengarahkan anak agar tidak menggunakan gawai secara berlebihan.

Sementara itu, psikolog anak Alva Paramitha, S.Psi., Psikolog, BFRP menjelaskan bahwa berbagai aktivitas kreatif dapat menjadi alternatif yang menarik bagi anak dan remaja untuk mengurangi screen time.

Kegiatan seperti menggambar, membuat video pendek, memotret, atau bermain musik dapat memberikan ruang ekspresi bagi anak sehingga mereka tidak hanya menjadi konsumen konten digital.

Aktivitas semacam ini diharapkan mampu mengalihkan perhatian anak dari kebiasaan konsumsi pasif seperti scroll tanpa henti di media sosial.

Selain kegiatan kreatif, aktivitas fisik juga sangat bermanfaat bagi perkembangan anak. Menurut Alva, kegiatan seperti olahraga, menari, bela diri, atau aktivitas luar ruang dapat membantu anak menyalurkan energi sekaligus melatih kemampuan mereka dalam mengatur emosi.

Aktivitas reflektif juga bisa menjadi pilihan lain. Salah satunya adalah menulis jurnal, yang dapat membantu anak mengenali sekaligus mengelola emosi mereka dengan lebih baik.

Anak dan remaja juga bisa diarahkan untuk melakukan kegiatan berbasis proyek, misalnya membuat podcast, menulis blog, atau menghasilkan karya digital lainnya. Dengan cara ini, mereka tidak hanya mengonsumsi konten di platform digital, tetapi juga belajar menciptakan sesuatu.

Selain itu, anak juga dapat didorong untuk terlibat dalam kegiatan sosial secara langsung, seperti mengikuti klub sekolah, komunitas hobi, atau kegiatan sukarelawan.

Menurut Alva, kegiatan semacam itu dapat membantu anak melatih kemampuan bersosialisasi sekaligus membangun rasa percaya diri.

"Remaja butuh ruang untuk merasa mampu dan diterima. Itu bisa didapatkan dari kegiatan nyata, bukan hanya dari jumlah likes," kata Alva kepada ANTARA pada Jumat.

Para psikolog menilai bahwa dengan keterlibatan aktif dari keluarga, pembatasan penggunaan gawai dan platform digital dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran bagi anak. Dengan begitu, anak tidak hanya belajar membatasi diri, tetapi juga mengembangkan kreativitas dan kemampuan sosial mereka di dunia nyata.

Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026
TAG: